SHALAT DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH

islam animasiEMAS

 SHALAT DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMBENTUK  AKHLAQUL KARIMAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Shalat sebagai salah satu bagian penting ibadah dalam Islam sebagaimana bangunan ibadah yang lain juga memiliki banyak keistimewaan. Ia tidak hanya memiliki hikmah spesifik dalam setiap gerakan dan rukunnya, namun secara umum shalat juga memiliki pengaruh drastis terhadap perkembangan kepribadian seorang muslim. Tentu saja hal itu tidak serta merta dan langsung kita dapatkan dengan instan dalam pelaksanaan shalat. Manfaatnya tanpa terasa dan secara gradual akan masuk dalam diri muslim yang taat melaksanakannya. Baca lebih lanjut

SHALAT DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH (Suatu Tinjauan Kependidikan)

Fokus penelitian ini adalah Shalat dan Implikasinya Dalam Membentuk Aklaqul Karimah (Suatu Tinjauan Kependidikan). Studi ini bermaksud mendiskripsikan secara rinci bagaimana Shalat dan Implikasinya Dalam Membentuk Aklaqul Karimah (Suatu Tinjauan Kependidikan). Apakah implikasi dalam membentuk akhlaqul karimah di dalam melaksanakan ibadah shalat itu benar-benar sudah ada pengaruhnya bagi si pelaku shalat?. Adapun judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah : Shalat dan Implikasinya Dalam Membentuk Aklaqul Karimah (Suatu Tinjauan Kependidikan)

Penelitian ini dilakukan berdasarkan kepustakaan. Metode yang digunakan adalah Library Research atau bersumber pada buku, majalah ataupun media-media yang mendukung dalam pencarian referensi artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Shalat dan Implikasinya Dalam Membentuk Aklaqul Karimah memang ada jika shalat itu benar-benar karena Allah bukan karena keterpaksaan. Disamping itu dalam pelaksanaannya penuh dengan kekhusyukan, shalat yang penuh dengan ketenangan, shalat secara lahiriah dan shalat secara batiniyah. Maksudnya disamping gerak-gerik shalat yang dilakukan oleh anggota badan, hati kita juga shalat, meyakini dalam hati bahwa kita sedang berkomuniaksi dengan Allah. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah, shalat yang dilaksanakan dalam keterpaksaan selama ini atau karena mencari perhatian teradap orang lain, hendaknya sikap itu dirubah. Mulailah shalat dengan benar, perbaiki niat kita, mulailah dengan rasa ikhlas dengan rasa penuh berdosa terhadap Allah. Kita sadari bahwa dunia ini tidak kekal, ahiratlah tempat yang abadi untuk umat yang patuh kepada tuhannya. Amalan shalat yang dilakukan dengan benar akan mempermudah urusan ibadah lainnya, apabila shalat dengan benar serta penuh kesadaran batin akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita. Yakinlah ini bukan ungkapan semata, tapi memang janji Allah.

Kata Kunci: Shalat, Implikasi, Akhlakul Karimah

PENDAHULUAN

Shalat sebagai salah satu bagian penting ibadah dalam Islam sebagaimana bangunan ibadah yang lain juga memiliki banyak keistimewaan. Ia tidak hanya memiliki hikmah spesifik dalam setiap gerakan dan rukunnya, namun secara umum shalat juga memiliki pengaruh drastis terhadap perkembangan kepribadian seorang muslim. Tentu saja hal itu tidak serta merta dan langsung kita dapatkan dengan instan dalam pelaksanaan shalat. Manfaatnya tanpa terasa dan secara gradual akan masuk dalam diri muslim yang taat melaksanakannya.

Shalat merupakan media komunikasi antara sang Khlalik dan seorang hamba. Media komunikasi ini sekaligus sebagai media untuk senantiasa mengungkapkan rasa syukur atas segala nikmat. Selain itu, shalat bisa menjadi media untuk mengungkapkan apapun yang dirasakan seorang hamba. Dalam psikologi dikenal istilah katarsis, secara sederhana berarti mencurahkan segala apa yang terpendam dalam diri, positif maupun negatif. Maka, shalat bisa menjadi media katarsis yang akan membuat seseorang menjadi tentram hatinya.

 Shalat sebagai tiang agama, penyangga bangunan megah lagi perkasa. Ia sebagai cahaya terang keyakinan, obat pelipur ragam penyakit di dalam dada dan pengendali segala problem yang membelenggu langkah-langkah kehidupan manusia. Oleh karenanya, shalat dapat mencegah perilaku keji dan munkar, menjauhkan hawa nafsu yang condong pada kejelekan untuk mencampakkannya sejauh mungkin.

Ibadah Shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam adalah bangunan megah indah yang memiliki sejuta ruang yang menampung semua inspirasi dan aspirasi serta ekspresi positif seseorang untuk berperilaku baik, karena perbuatan dan perkataan yang terkandung dalam shalat banyak mengandung hikmah, yang diantaranya menuntut kepada mushalli untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar.

Sayangnya shalat sering dipandang hanya dalam bentuk formal ritual, mulai dari takbir, ruku’, sujud, dan salam. Sebuah kombinasi gerakan fisik yang terkait dengan tatanan fikih, tanpa ada kemuan yang mendalam atau keinginan untuk memahami hakikat yang terkandung di dalam simbol-simbol shalat. Berikut ini adalah nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam proses menjalankan ibadah shalat.

Melalui pelaksanaan ibadah shalat secara kontinue dari waktu kewaktu yang telah di tentukan batasnya di harapkan akan selalu ingat kepada Allah, sehingga dalam melakukan segala aktivitas akan terasa diawasi dan di perhatikan oleh dzat yang maha mengetahui, maha melihat, dan maha mendengar. Konsekwensinya adalah terhindar dari melakukan segala perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Shalat tidak hanya mengandung nilai ubudiah semata akan tetapi shalat juga mengandung hubungan baik dengan sesama makhluq Allah lainnya. Setiap Muslim di tuntut untuk merealisasikan dalam bentuk prilaku kehidupan, seperti yang di kehendaki oleh Allah dalam firmannya :

…….  žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# Ìs3ZßJø9$#ur  …….. ( العنكبوت :٤۵ )

Atinya : …….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar……

 

 Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa kerjakanlah shalat secara sempurna seraya mengharapkan keridhoannya dan kembali kepadanya dengan khusyu’ serta merendahkan diri. Sebab jika shalat dikerjakan dengan cara demikian maka ia akan mencegah dari perbuatan kekejian dan kemunkaran dan akan membentuk akhlaqul karimah. Shalat yang di kehendaki Islam bukanlah semata-mata sejumlah bacaan yang diucapkan oleh lisan, sejumlah gerakan yang dilakukan oleh anggota badan tanpa di sertai kesadaran akan kekhusyu’an hati. Tetapi shalat yang diterima adalah shalat yang terpenuhi ketentuan-ketentuannya berupa perhatian fikirannya, kedudukan hatinya dan kehadiran keagungan seakan-akan berada di hadapannya. Sebab tujuan utamadari shalat adalah agar Manusia selalu mengingat Tuhannya yang maha tinggi.

 

PERMASALAHAN

Adapun karena penelitian ini bukan penelitian lapangan melainkan kepustakaan, maka pertanyaan yang umum ialah .mengapa sebagian masyarakat beragama kurang memahami tentang kriteria shalat seperti apa yang bisa membentuk aklaqul karimah? Adapun pertanyaan peneliti selanjutnya ialah sejauh mana Implikasi shalat dalam membentuk aklaqul karimah?.

 

PEMBAHASAN

Shalat

Secara  bahasa shalat  artinya  do’a, sedangkan menurut  syariat, yang dimaksud dengan shalat adalah ibadah khusus yang telah dijelaskan batas-batas waktunya dalam syariat. Menurut sebagian ulama mendefinisikan shalat sebagai ibadah yang terdiri atas perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan khusus yang dibuka dengan takbir (takbiratul ihrom) dan ditutup dengan salam

Setiap muslim hendaklah menyadari bahwa pelaksaan ibadah-ibadah mahdhah yang diperintahkan Allah; seperti shalat zakat, puasa, haji dan lain-lain, bukanlah hanya sekedar serangkain kewajiban yang jika dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan mendapat dosa. Akan tetapi, lebih jauh lagi bahwa semua ibadah yang diperinthkan Allah tersebut, mengandung ajaran akhlak yang sangat sempurna, jika saja setiap orang yang mengerjakannya mau dan mampu menghayati setiap rangkaiannya.

Shalat, seperti yang dikatakan Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya bahwa ia adalah tiang agama. Agaknya, jika setiap muslim yang mengerjakan shalat, mampu menghayati setiap gerakan dan bacaan shalatnya tentulah agama Allah ini akan terlihat begitu sempurna dan kokoh oleh umatnya di hadapan semua manusia. Dengan menghayati dan mengamalkan shalat dengan sempurna, tentulah setiap umat Islam akan menjadi pribadi-pribadi yang sempurna dan memiliki akhlak sempurna serta menjadi patron bagi umat lain.

Menurut ilmu pengetahuan eksak, sinar-sinar berasal dari peristiwa-peristiwa mati. Sedang menurut ilmu fisika, sinar ruhani berasal dari keadaan yang hidup. Walaupun keduanya  dalah daya elogtromagnetik, akan tetapi melihat fungsi keduanya, sangat berbeda. Karena-karena elektron-elektron benda mati akan hilang lenyap masuk ke udara, sedang bion-bion ruhani yang berasal dari elektron-elektron hidup tidak akan lenyap. Sebab akan mempunyai hubungan dengan Yang Maha Hidup dan Menghidupkan serta yang dapat memberikan kehidupan. Yang demikian ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu yang mati pasti dalam keadaan pasif, sedang yang hidup terlebih lagi makhluk yang berfikir, pasti tidak akan menyerah kepada yang mati, bahkan selalu aktif bergerak menentang melawan dengan artian tidak mudah tunduk kepada hukum benda-benda mati atau yang nisbi (relative).

Walaupun kita menyadari bahwa elektron-elektron benda mati, jika terurai dari susunan atomnya mempunyai suatu tenaga yang besar (atom energy), tetapi kita dapat menyadari bahwa bion-bion yang keluar dari susunan ruhani hidup disebut .meta energy., jauh lebih besar tenaganya dari atom energy. Tenaga atau tenaga gaib yang tidak dapat dirasa oleh panca indera atau dengan alat apapun juga dan masih belum didekati ilmu pengetahuan eksak.

Para sarjana mengakui adanya automatisme di dalam inti atom yang sangat mengeherankan, sehingga menyebabkan timbulnya keyakinan bahwa di dalam susunan dan mekanisme bagian-bagian inti atom harus ada pengatur dan penciptanya yang tidak mempunyai awal dan akhir, baik dalam waktu maupun dalam tempat.2 .Tentu saja manusia yang dikaruniai otak batin dapat mengadakan abstraksi untuk menjelajah alam abstrak dengan secara langsung (deduktif), dan akan menimbulkan keyakinan, di belakang sesuatu yang hidup ada kekuasaan yang mengatur dan mengantar secara langsung memanjat ke arah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, adalah ibadah shalat yang khusyuk, dialog antara ma.bud dengan Al-Khaliq tanpa batas dan hijab.

Shalat yang dilakukan dengan khusyuk, selalu menyelamatkan rasa ketenangan batin yang dapat mencegah bekerjanya atom energy, sehingga lenyaplah rasa takut karena berhasil berhubungan langsung dengan Hakikat Maha Energi, menjamin keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.

Berangkat dari ayat yang berbunyi Dirikanlah sholat, karena sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dari ayat tersebut kita harus bisa membedakan antara .mengerjakan shalat dengan mendirikan shalat. Orang yang mengerjakan shalat belum tentu dia mendirikan shalat, tetapi setiap orang yang mendirikan shalat sudah pasti dia mengerjakan shalat. Artinya, mendirikan itu tanpa paksaan dan tidak mengharap sesuatu melainkan ridha Allah, tetapi kalau mengerjakan bisa saja karena ada paksaan atau malu pada seseorang, atau mengharap hal-hal lain yang bersifat duniawi.

Kita tidak tahu apakah shalat kita diterima atau ditolak oleh Allah. Oleh sebab itu kita harus berusaha mengerjakannya dengan penuh mengharapkan keridhoaan dari Allah. Ada sebuah kisah, bahwa ada seorang sahabat mendatangi seorang tukang jahit untuk mengembalikan baju hasil jahitannya karena ada sedikit cacat, terus situkang jahit tersebut menangis, sahabat tersebut jadi bingung, terus bertanya…! wahai saudaraku kenapa engkau menangis..? saya tidak marah, dan akan menerima kembali baju tersebut setelah engkau perbaiki..! tukang jahit menjawab “saya bukan menangisi baju ini, tetapi saya menangis karena saya teringat dengan shalat saya…! baju yang cacat jahitan saja dikembalikan oleh yang punya.., dan minta diperbaiki, tentu bisa saya perbaiki, tetapi shalat kita, apakah Allah menerima shalat atau menolaknya, kita tidak pernah mengetahuinya…! itulah gunanya shalat sunat, untuk menutupi lobang-lobang pada shalat wajib kita, yang kita tidak tahu dimana cacatnya.

Fungsi Khusyuk Dalam Penyempurnaan Shalat

Kata khusyuk dari segi bahasa berarti ketenangan/ diam. Ia adalah kesan khusus yang terdapat di dalam benak terhadap objek khusu., sehingga yang bersangkutan mengarah sepenuh hati kepadanya sambil mengabaikan selainnya. Ada kiat untuk memahami sedalam-dalamnya hikmah yang tersembunyi dalam ibadah shalat. Lantaran salah satu ibadah terpenting yang dapat membawa manusia ke alam Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap insan seyogyanya berusaha dengna penuh dengna kesadaran untuk mengetahui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa itu, sehingga setiap tindakan dan perbuatan serta rencana-rencana kita selalu dipimpin dan diberi petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, dan berhasillah cita-cita yang ditujukan ke arah keadilan, kemakmuran yang hakiki dan abadi.

Walaupun hikmah-hikmah besar terkandung di dalam ibadah shalat belum dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan eksak dan belum bisa diterima sepenuhnya oleh rasio, hal ini tidak mengherankan, lantaran buat menemukan hakikat di dalam ibadah shalat dibutuhkan ilmu pengetahuan yang berdiri di atas rasio yakni ilmu metafisika dan nilai rasa yang tinggi.

Hakikat itu bukan suatu kenyataan-kenyataan yang dapat disaksikan lewat panca indera, tentu mustahil panca indera manusia yang tidak dapat sempurna tersebut dapat menemukan kenyataan yang Maha Sempurna. Otak lahir hanya dapat menyaksikan kenyataan yang riel. Sedangkan untuk menemukan kenyataan yang hakiki, dibutuhkan alat panca indera batin, yang menyingkap kenyataan metafisis. Oleh sebab itu timbulnya ketegangan dan kekacauan di dunia, disebabkan bahwa manusia mengingkari hal-hal yang sifatnya ghaib dan menjauhi dirinya dari hakikat mutlak. Mereka banyak terpukau dengan ilmu pengetahuan eksak meninggalkan yang inmateri. .Maka untuk menghalau ketegangan-ketegangan di dunia, sangat dibutuhkan kebangkitan spiritual disamping materi yang sanggup membawa umat ke alam kehidupan yang tentram dan damai.

Adapun syarat mutlak membangun spiritual adalah ibadah shalat, selaku zat pembawa (draagstof) menuju Hakikat Yang Maha Suci yang dapat menuntun manusia ke arah berfikir murni, perbuatan suci dan angan-angan suci mempunyai kesanggupan menjelmakan dunia tertib dan teratur.

Dalam hal pelaksanaan shalat menurut sufi tidak cukup sekedar syarat dan rukun shalat, tapi kita menyadari bahwa shalat merupakan tugas yang langsung disampaikan kepada Rasulullah saw. Yakni beliau pribadi berangkat menjelajah angkasa luar (mi’raj) menuju suatu tempat yang telah ditentukan. Berbeda dengan tugas ibadah lain yang biasanya beliau menerimanya dengan perantaraan wahyu atau dengan perantaraan Malaikat Jibril. Yang demikian sudah tegas, ibadah shalat merupakan pertemuan langsung antara hamba dengan Tuhan, tanpa perantara.

Sesuai dengan sabda Nabi: Pada saat melakukan ibadah shalat kita menyebut nama-nama Allah SWT, munajat doa dan puji-pujian dipancarkan gelombang-gelombang ruhani yang diihadapkan scara langsung kehaderat allah SWT. Sedangkan badan jasmani wajib mentaati setiap gerakan yang dikomandokan ruhani. Tepat sekali kalau ibadah shalat menjadi syarat mutlak bagi yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah swt, yang disebut bersatu dengan tuhan. Dalam shalat khusyuk itu, dapat mencegah timbulnya keluh kesah, kesulitan, kesempitan, kemiskinan, dan kemeralatan, menjamin rasa saling mencinta dan saling menghargai, menumbuhkan toleransi.

Firman Alah:

ä.øŒ$#ur š­/§‘ ’Îû šÅ¡øÿtR %Y敎|Øn@ Zpxÿ‹Åzur tbrߊur ̍ôgyfø9$# z`ÏB ÉAöqs)ø9$# Íir߉äóø9$$Î/ ÉA$|¹Fy$#ur Ÿwur `ä3s? z`ÏiB tû,Î#Ïÿ»tóø9$# ÇËÉÎÈ

.Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila berjumpa malapetaka, ia berkeluh kesah akan tetapi apabila ia memperoleh kekayaan enggan bersedekah (amal social)kecuali mereka yang melakukan ibadah shalat yang selalu khusyuk dalam melakukan shalatnya (berkekalan dalam shalat)., (QS. al-A’raf [7] : 205)

Banyak diantara umat Islam yang mengerjakan sholat, namun mereka tidak mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi orang yang sholat seperti tersebut diatas. Diantara mereka ada yang berusaha mendapatkan ketenangan, rasa aman dan kesuksesan dengan mencari alternatif lain. Mereka mendatangi paranormal, dukun, memakai jimat dan melakukan perbuatan musyrik lainnya. Untuk mendapat ketenangan, rasa aman dan kesejahteraan. Padahal semestinya apa yang mereka cari itu bisa mereka dapatkan dengan mengerjakan sholat yang benar dan khusuk. .Dari pengamatan kami ternyata sebagian besar umat Islam belum melakukan sholat dengan benar sesuai tuntunan Al Qur.an dan Rasulullah. Banyak umat Islam yang sholat namun tidak mengerti ayat atau bacaan yang dibaca dalam sholatnya.

Ibadah shalat yang dilakukan seseorang, tidak terbatas pada ibadah-ibadaniyah dan pribadi. Namun, hendaklah kita melengkapinya dengan jenis ibadah yang bermanfaat bagi umum, seperti berdakwah, beramar ma.ruf nahi munkar, bershilaturrahmi, mengajarkan ilmu dan lain-lain. Hal yang terpenting, sebab bisa bermanfaat secara luas di masyarakat, sementara ibadah badaniyah terbatas pada indidividunya. Hendaknya anda selalu khusyuk dalam shalat, dengan hati yang hadir dan dengan menyempurnakan berdirinya, mentartilkan serta menghayati bacaannya. Demikian pula menyempurnakan rukuk, sujud dan rukun-rukun shalat lainnya. Perhatikan baikbaik semua sunnah dan adab yang dianjurkan menurut syari.at dalam shalatmu serta menjaga agar jangan sampai ada sesuatu yang mengakibatkan kekurangsempurnaan padanya.

Apabila memperhatikan itu semua, shalat anda akan menjadi putih, bersih dan cemerlang, dan kelak akan berkata kepadamu, .telah kau jaga aku, semoga Allah pun menjagamu.. Jika tidak, ia akan menjadi hitam kelam dan kelak akan berkata kepadamu, .Telah engkau terlantarkan aku, semoga Allah menelantarkanmu. Hasan al-Basri pernah berkata dalam buku Thariqah Menuju Kebahagiaan., karangan Allamah Sayyid Abdullah Haddad bahwa setiap shalat yang tidak disertai dengan kehadiran hati akan lebih cepat mendatangkan hukuman. Setan terkutuk sangat bernafsu mengganggu si mukmin ketika shalat, antara lain dengan mengingatkannya kepada berbagai kebutuhannya, di antara hal ihwal kehidupan duniawi, yang sering kali justru tidak terlintas pada pikirannya sebelum memulai shalatnya.

Tujuannya ialah agar orang yang mengerjakan shalat itu terpalingkan dari penghadiran hatinya di hadapan Alah. Dan bila demikian keadaannya, ia pun akan terpalingkan sehingga tak diterima oleh Allah. Bahkan, ada kalanya ia menyelesaikan shalat dalam keadaan berdosa. Karena itulah, para ulama menganjurkan agar seseorang yang hendak shalat terlebih dahulu membaca surah an-Nas (Surah ke 114) demi membentengi diri dari setan terkutuk. Dalam tradisi tasawuf, peran shalat adalah membuat kita menghadap-Nya.

Seperti sabda Nabi Muhammad saw: shalatlah kamu seolah-olah kamu melihat

Allah, dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu. Jika kita belum mencapai tingkat kesadaran (makrifat) yang membuat kita dapat melihatnya, maka yakin dan sadarlah bahwa Dia senantiasa melihat kita dalam setiap tindakan.

Jika demikian kondisi rohani kita, maka shalat akan menunjukkan keluasan yang luar biasa. Dia membawa kita dari dunia bendawi, dari kehidupan keseharian yang yang sering kali berat dihadapi, menuju sebuah pertemuan suci. Saat-saat itu merupakan saat kedamaian, ketika manusia merasa berada dalam kehadiran-Nya. Karena bagaimana mungkin kita hadir di .hadapan-Nya jika tidak melalui-Nya? Hal itulah yang memberikan arti penting dan kekuatan luar biasa pada shalat.

Shalat Dan Implikasinya Dalam Membentuk Akhlaqul Karimah

Dan selanjutnya mari kita ikuti petunjuk Allah untuk tata cara kita menyembah Allah dalam melakukan shalat, supaya kita tidak ada kesalahan dalam menyembah. Apabila kita sujud hendak menyembah Allah dalam melakukan shalat. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya:

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ   !$tB ߉ƒÍ‘é& Nåk÷]ÏB `ÏiB 5-ø—Íh‘ !$tBur ߉ƒÍ‘é& br& ÈbqßJÏèôÜムÇÎÐÈ

.Dan (yang demikian itu karena) tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan mereka menyembah Aku. (Sungguh) Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka (sedikitpun), dan tidak (pula) aku menghendaki supaya mereka member makan kepada-Ku.. (QS. Az-Zariyat [51] : 56-57)..17

(#r߉ègôž$$sù ¬! (#r߉ç7ôã$#ur ) ÇÏËÈ

Maka sujudlah (kamu) kepada Alah dan sembahlah (Dia)., (QS. An-Najm [53] : 62).

Dari ayat di atas dapat kita berkesimpulan bahwa petunjuk Allah yang telah Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita menyembah Allah Tuhan yang telah menciptakan kita. Maka sembahlah Allah sebagaimana yang telah Allah tunjukkan kepada kita dari perintah-Nya. Dan yang demikian itu karena tidaklah Allah menciptakan kita melainkan kita supaya menyembah Allah. Dan Allah tiddak menghendaki rezeki dari kita sedikitpun, dan tidak pula Allah menghendaki supaya kita memberi makan kepada-Nya. Maka apabila kita sujud dalam melakukan shalat, sembahlah Allah dengan rasa hati dan ingatan lurus tercurah kepada Allah Tuhan yang telah menciptakan kita, sebagaimana yang telah Allah tunjukkan kepada kita dari perintah-Nya. Dan yang demikian itu karena tidaklah Allah menyuruh kita agar kita mendirikan shalat, melainkan kita supaya mengingat Allah dan menyembah-Nya, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dengan firman-Nya:

ûÓÍ_¯RÎ) $tRr& ª!$# Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& ’ÎTô‰ç6ôã$$sù ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ü“̍ò2Ï%Î! ÇÊÍÈ

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku (dan menyembah-Ku).(Q.S Thaha [20] : 14)

þ’ÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur ’Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ

Maka (apabila kamu shalat) ingatlah kepada-Ku, nniscaya Aku-pun ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (petunjuk)-Ku. (Q.S al-Baqarah [2] : 152).

Dari beberapa dalil di atas sungguh Allah telah memberikan gambaran yang jelas dalam pelaksanaan shalat dan perumpamaan shalat yang dimaksud oleh Allah. Allah memerintahkan dengan ayat-ayat-Nya, supaya kita apabila kita shalat hendak menemui Allah, ingatlah kita kepada Allah niscaya Allah-pun ingat pula kepada kita. Dan yang demikian itu suatu pertemuan yang hak antara kita dengan Allah, sebagaimana pertemuan kita dengan orang tua kita, yang ketika itu kita dan orang tua kita sama-sama ingat. Dan demikian pula pertemuan kita dengan Allah, akan tetapi Allah tidak kelihatan oleh penglihatan kita, karena Allah Tuhan Yang Maha Ghaib Yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan kita.

Maka bersyukurlah kita kepada Allah yang telah memberi petunjuk kepada kita untuk pertemuan kita dengna Allah, dan janganlah kita mengingkari petunjuk-Nya dengan tidak mau mengingat Allah ketika kita shalat menemui Allah. Dan yang demikian itu karena Allah Tuhan Yang Maha Ghaib tidak dapat dicapai oleh penglihatan kita, sedang Allah dapat melihat segala yang kelihatan. Dan sungguh Allah melihat kita ketika kita berdiri shalat, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya dalam Q.S As-Syura [26] 218-220:

“Ï%©!$# y71ttƒ tûüÏm ãPqà)s? ÇËÊÑÈ   y7t7=s)s?ur ’Îû tûïωÉf»¡¡9$# ÇËÊÒÈ   ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇËËÉÈ

 

(Sungguh)Allah melihat kamu ketika kamu berdiri (shalat). Dan (Dia melihat pula) gerak-gerikmu dalam bersujud, (maka kepada siapa kamu menyembah ketika sujud)?. Sungguh dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (siapa yang kamu seru dan siapa yang kamu sembah ketika sujud). (Q.S As-Syura [26] 218-220).

Itulah yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya. Maka yang demikian itu Allah melihar gerak-gerik peragaan kita dalam melakukan shalat, itu karena Allah telah menyuruh kita, supaya kita shalat dengan melakukan gerak-gerik peragaan-Nya. Maka itu perhatikanlah oleh kita sehingga kita memahami apa yang telah Allah terangkan kepada kita ketika kita shalat. Sungguh Allah melihat kita ketika kita berdiri shalat. Dan Allah melihat gerak-gerik kita dalam bersujud, maka kepada siapa kita menyembah kita sujud? Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui siapa yang kita seru dan siapa yang kita sembah ketika kita sujud dalam melakukan shalat. Dan yang demikian itu karena tidaklah kita sujud dalam melakukan shalat melainkan kita menyembah. Maka itu ingat-ingatlah oleh kita, karena jangan-jangan kita sujud dalam melakukan shalat itu menyembah sesuatu selain Allah dengan rasa hati dan ingatan kita lurus tercurah kepada sesuatu, bukan lurus tercurah kepada Allah yang telah menciptakan kita.

Shalat Dalam Mencegah Akhlakul Madzmumah

Mari kita ikuti petunjuk Allah untuk perumpaman shalat dalam menyembah Allah, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita dalam firman-Nya.

ãÉOÏ%r&ur… no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur ….  ÇÍÎÈ

….Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu bisa mencegah diri dari perbuatan keji dan muingkar….. (QS. Al-Ankabut [29] : 45).

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãèŸ2ö‘$# (#r߉àfó™$#ur (#r߉ç6ôã$#ur öNä3­/u‘ (#qè=yèøù$#ur uŽöy‚ø9$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ) ÇÐÐÈ

.Wahai orang-orang yang beriman, ruku.lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan kerjakanlah yang baik, supaya kamu beruntung.. (Q.S Al-Hajj [22] : 77).

Dalil di atas menunjukkan bahwa seseorang akan terhindar dari segala perbuatat buruk yang bersifat keji dan munkar, jika seseorang benar-benar telah melakukan shalat, kemudian membiasakan berperilaku baik. Hal ini akan menjamin seorang terhindar dari perbuatan yang buruk atau keji. Allah SWT dengan tegas menyebutkan dalam firman-Nya di atas bahwa kita diperintahkan untuk ruku., sujud, menyembah tuhan dan membiasakan melakukan yang baik-baik. Karena jika seseorang telah terbiasa dengan perilaku baik, maka ia tidak akan mungkin untuk melakukan perbuatan atau perilaku yang buruk.

Dalam pelaksanaan shalat ada dua hakikat bagi shalat yaitu, hakikat lahir dan hakikat batin. Shalat seseorang itu tidak akan dianggap sempurna, melainkan dengan menerapkan kedua hakikat ini sekaligus. Adapun hakikat lahir itu ialah, berdiri, membaca, ruku., sujud dan yang semisal itu dari tugas-tugas shalat yang lahir. Sedang hakikat batinnya ialah khusyu., hadir hati, ketulusikhlasan yang sempurna, meneliti dan memahami makna-makna bacaannya, tasbih dan yang semisal itu dari tugas-tugas shalat yang batin.

Imam al-Ghazali berkata, perumpamaan orang yang mendirikan shalat secara hakikat lahir saja dengan mengabaikan hakikat batinnya, ibarat seorang yang menghadiahkan seorang putri yang sudah mati, tidak bernyawa lagi, kepada seorang maharaja agung. Dan perumpamaan orang yang lalai dalam mendirikan hakikat shalatnya yang lahir, ibarat seseorang yang menghadiahkan seorang putri yang putus kaki tangannya dan buta pula matanya, kepada seorang raja. Kedua orang ini akan dimurkai oleh raja disebabkan hadiahnya. Mereka akan disiksa dan dianiaya oleh raja, karena menghina kedudukan raja dan mengabaikan haknya.

Selanjutnya, imam Ghazali berkata, perumpamaan itu sama dengan anda yang menghadiahkan shalat kepada Tuhan. Waspadalah, jangan anda menghadiahkan shalatmu dengan sifat-sifat itu, sehingga anda patut menerima siksaan Allah SWT, demikianlah maksudnya. Itulah yang Allah perintahkan kepada kita. Hal itu merupakan cara Allah untuk memberi petunjuk kepada kita dalam hal pelaksanaan shalat. Allah memberikan pengajaran kepada kita dalam gerak-gerik dalam shalat, baik itu dalan berdirinya, ruku.nya, sujudnya menyembah Allah dan duduknya. Maka mari kita pelajari apa yang Allah ajarkan kepada kita untuk tata cara kita menyembah Allah dalam melakuan shalat supaya shalat kita itu memberikan bekas dalam kehidupan sehari-hari agar di jauhi dari perbuatan keji dan munkar. Dan apabila kita shalat tunaikanlah apa yang Allah perintahkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya, karena yang demikian itu Allah menguji iman kita.

Dan apabila kita hendak melakukan shalat, kemudian kita telah berdiri untuk shalat, maka janganlah kita tergesah-gesah bicara, sehingga kita mengetahui mau kepada siapa kita bicara dalam melakukan shalat. Dan jika kita jika kita telah mengetahui serta jelas bahwa kita akan bicara kepada Allah dengan rasa hati dan ingatan kita lurus tercurah kepada-Nya. Dan janganlah kita lengah dari memperhatikan pembicaraan kita kepada Allah, karena jika kita lengah niscaya kita tersesat dari jalan petunjuk Allah yang lurus kepada-Nya. Adapun yang demikian itu karena itu apa yang Allah ajarkan kepada kita untuk bahan pembicaraan kita kepada Allah, maka itu sebagai jalan penghubung rasa hati dan ingatan kita kepada Allah, supaya rasa hati dan ingatan kita lurus tercurah kepada Allah, dengan mengikuti jalan pembicaraan kita yang kita bicarakan kepada Allah.

Begitu juga halnya dengan masyarakat, kita dituntut untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat lingkungan kita. Karena ibadah yang kuat tidak cukup jika pergaulan kita sesama maanusia belum maksimal atau bisa dikatakan kurang peduli dengan lingkungannya. .Pernah ada anggapan sementara orang bahwa kaum sufi dan kaum tarekat terlalu sibuk dengan ibadah serta zikir mereka, sehingga meninggalkan kewajiban sosial mereka. Sejarah membuktikan bahwa anggapan itu tidaka benar. Sufi-sufi besar yang menjadi perintis tasawuf bukan hanya menjalankan ajaran pri kemanusiaan, tetapi juga perikemakhlukan yang terdapat dalam al-Quran dan Hadits.

Banyak orang menduga bahwa khusyu. dalam shalat menjadikan seseorang larut dalam rasa dan ingatan kepada Allah SWT, tidak mengingat selain-Nya, dan tidak merasakan sesuatu yang tidak berhubungan dngan-Nya. Dalam konteks ini, sering kali contoh yang dikemukakan adalah kasus Sayyidina Ali Zainal Abidin, yang digelari dengan as-sajjad (tokoh yang banyak sujud), cucu sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. RA. (putri Rasul SAW.).

Dalam riwayat dikemukakan bahwa as-sajjad menderita sakit di kakinya yang mrengharuskan pembedahan, maka kepada dokter dia menyarankan agar melakukan pembedahan itu pada saat beliau shalat, karena pada saat itu ingatan dan perasaan beliau terpaku pada kebearan Allah SWT, tidak kepada yang lainnya. Beliau tidak merasakan sakit akibat pembedahan itu, karena sedang berada dalam puncak kenikmatan menghadap Allah SWT. Bagaimana kita meraih khusyu.? Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 45 menegaskan bahwa:

(#qãZŠÏètFó™$#ur Ύö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 $pk¨XÎ)ur îouŽÎ7s3s9 žwÎ) ’n?tã tûüÏèϱ»sƒø:$# ÇÍÎÈ

 

Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya ia sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (QS. al-Baqarah [2] : 45).

 

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa dalam menghadapi hidup ini sabar dan shalat merupakan dua hal yang amat mutlak guna untuk meraih kesuksesan, dan keduanya tidak gampang dikerjakan kecuali bagi orang khusyu. Salah satu yang menarik untuk digarisbawahi adalah bahwa shalat dan sabar harus menyatu dalam diri manusia. Ketika bersabar sseseorang harus shalat dan berdoa, dan ketika shalat/berdoa harus sabar. Jiwa harus dipersiapkan untuk meraih khusyu. dan salah satu persiapan yang paling penting dijelaskan oleh lanjutan ayat di atas yang menyatakan bahwa:

tûïÏ%©!$# tbq‘ZÝàtƒ Nåk¨Xr& (#qà)»n=•B öNÍkÍh5u‘ öNßg¯Rr&ur Ïmø‹s9Î) tbqãèÅ_ºu‘ ÇÍÏÈ

 

 (Yaitu) orang-orang yang menduga keras, bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 46)

Menemui Tuhan dan kembali kepada-Nya berarti akan wafat dan menemui ganjaran atau siksa-Nya. Jika demikian, kehkusyu’an dapat diperoleh dengan menggambarkan tentang ganjaran atau siksa yang menanti setelah kematian. Sementara imam shalat berucap .shalluu shalaat muwaadi. (shalatlah sebagaimana shalatnya seseorang yang segera akan berpisah dengan kehidupan dunia). Ucapan ini ditujukan kepada dirinya dan para makmum agar membayangkan kematian. Kata sebagian pengamal tasawuf memberi nasehat: .bayangkanlah ketikan Anda berdiri untuk shalat, bahwa sisi sebelah kanan dan kiri Anda surga dan neraka, di belakang Anda malaikat maut sedang menanti selesainya shalat Anda untuk mencabut ruh Anda, dan dihadapan Anda hadir kebesaran Allah.

Jika itu sudah kita bayangkan pastilah berpengaruh pada shalat kita atau akan meraih khusyu., tunduk dan patuh kepada Tuhan, tidur dalam keadaan sadar,  penuh rasa ikhlas dan rasa takut, bayangkan kematian di depan kita, kemudian mengharapkan surga dan ridha-Nya, serta takut akan neraka dan murka-Nya. Wa Allahu A’lam.

PENUTUP

Kesimpulan

Allahumma, ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus dan jadikanlah kami termasuk dalam golongan yang Kau limpahkan nikmat-Mu atas mereka, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Sungguh, merekalah sebaik-baik teman. Itulah karunia Allah dan cukuplah Dia Yang Maha Mengetahui. Segala puji bagi-Nya, pada permulaan dan akhir, lahir dan bathin; Dialah yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, Yang Batin, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segalanya. Apa saja dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenaan-Nya.

Dari uraian di atas, kita dapat menyederhanakan ulasan menjadi beberapa paragraf berikut ini:

Allah swt. tidak menciptakan makhluk-Nya melainkan agar mereka mau berada di jalan yang benar, mau menjauhi tindakan-tindakan yang merugikan. Dengan maksud agar tercipta harapan seperti ini, maka diturunkan wahyu-wahyu dan kitab-kitab juga diutuslah para rasul kepada umat manusia.

Dalam pelaksanaannya, shalat itu mesti penuh kesadaran, menumbuhkan rasa cinta dengan Allah dan shalat penuh kekhusyuan, artinya disamping jasad dan anggota tubuh kita shalat, bathin kita juga shalat. Ada dua hakikat bagi shalat yaitu, hakikat lahir dan hakikat batin. Shalat seseorang itu tidak akan dianggap sempurna, melainkan dengan menerapkan kedua hakikat ini sekaligus. Adapun hakikat lahir itu ialah, berdiri, membaca, ruku., sujud dan yang semisal itu dari tugas-tugas shalat yang lahir. Sedang hakikat batinnya ialah khusyu., hadir hati, ketulusikhlasan yang sempurna, meneliti dan memahami makna-makna bacaannya, tasbih dan yang semisal itu dari tugas-tugas shalat yang batin.

Jadi mengapa masyarakat beragama masih banyak yang tidak tahu relevansi shalat dan implikasinya dalam membentuk ahlaqul karimah? Karena orang awam memang kebanyakan tidak mau tahu apa sebenarnya kandungan dari shalat atau hakikat dari shalat itu sendiri, mereka hanya shalat secara ritual atau memenuhi kewajiban saja, tanpa merealisasikan nilai dan pesan moral yang ada pada shalat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika seseorang benar-benar telah melakukan shalat, kemudian membiasakan berperilaku baik. Hal ini akan menjamin seorang terhindar dari perbuatan yang buruk atau keji. Allah swt. Dengan tegas menyebutkan dalam firman-Nya (Q.S Al-Hajj [22] : 74), bahwa kita diperintahkan untuk ruku., sujud, menyembah tuhan dan membiasakan melakukan yang baik-baik. Karena jika seseorang telah terbiasa dengan perilaku baik, maka ia tidak akan mungkin untuk melakukan perbuatan atau perilaku yang buruk.

Saran-saran

Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah, shalat yang dilaksanakan dalam keterpaksaan selama ini atau karena mencari perhatian teradap orang lain, hendaknya sikap itu dirubah. Mulailah shalat dengan benar, perbaiki niat dan iman kita, mulailah dengan rasa ikhlas dengan rasa penuh berdosa terhadap Allah. Kita sadari bahwa dunia ini tidak kekal, akhiratlah tempat yang abadi untuk umat yang patuh kepada tuhannya.

Amalan shalat yang dilakukan dengan benar akan mempermudah urusan ibadah lainnya, apabila shalat dengan benar, penuh kesadaran batin, serta mengerjakan yang baik-baik akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita. Yakinlah ini bukan ungkapan semata, tapi memang janji Allah. Wallahu a.lam.

DAFTAR PUSTAKA

 

Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Buku Thariqah Menuju Kebahagiaan, Ter. Dari Risalah Al-Mu.awwanah wa Al-Muzhaharah wa Al-Muwazarah Li al-Raghibin min Al-Mu.minin fi Suluk Al-Thariq Al-akhirah oleh Muhammad al-Baqir, (Bandung: Mizan, 1994), Cet. VI,

Al-Quran Terjemahan Indonesia, (Jakarta: PT Sari Agung, 1998), Cet. XII.

Baharudin Mudhari, Meta Energi Rohaniah dalam ritual Islam, (Surabaya: Pustaka Progresif, 2003), Cet. I.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV Penerbit J-Art, 2007)

Hidayat, Komarudin, Tuhan Begitu Dekat: Menangkap Makna-makna tersembunyi Didbalik Perintah Beribadah, (Jakarta: Paramadina), Cet. II, 2003.

Imam Habib Abdullah Haddad, Buku Nasehat Agama dan Wasiat Iman, Terj. dari an-Nashaaih ad-Diniyah wal-Washaayab al-Imaaniyah oleh Anwar Rasyidi dan Mama. Fatchullah, (Bandung: Risalah, 1986), Cet. I.

Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa, Manajemen Tawazun Dalam Kehidupan Muslim, (Jakarta: Al-I.tishom Cahaya Umat, 2005), Cet. II.

Pramono, Tata Cara Menyembah Allah dalam Melakukan Shalat, Jakarta: Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Al-Mu.minin, 2006.

Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi; Al-Quran dan Dinamika Kehidupan masyarakat, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Cet. I, hlm. 34 7 Baharudin Mudhari, Meta Energi Rohaniah …, Cet. I.

Said Agil Husin Al-Munawar, al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), Cet. I,

Syekh Khaled Bentounes, Buku Tasawuf Jantung Islam,Terj. Dari Le Soufisme Caurdel Islam oleh Andityas P., (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), Cet. I.

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007

Tebba, Sudirman , Sehat Lahir Batin, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, Cet. I, 2005.

_____, Fiqh Ibadah Praktis, Jakarta, Bumbu Dapur Communication-PT. Mitra Cahaya tama, Cet. I, 2008.